Latest Story

“Ruang” Sebagai Panggung Politik

February 14, 2012
By

“Ruang” Sebagai Panggung Politik

 

Mungkin masih segar dalam ingatan kita deklarasi Capres dan Cawapres pasangan Megawati Soekarnopoetri dan Prabowo Subianto di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Bantargebang. Tempat memiliki citra dan makna bagi setiap orang. Pilihan lokasi deklarasi di Bantargebang

diharapkan mampu membangun citra dan makna bersama pasangan calon dengan konstituennya. Misalnya dalam kasus Megawati dan Prabowo diharapkan akan memperkuat citra kedua tokoh tersebut sebagai pembela komunitas “wong cilik”. Dalam politik, ruang dan tempat memiliki makna tersendiri yang merupakan akibat dari produksi dan konstruksi ruang.

Secara sosial, produksi ruang meliputi berbagai aspek, seperti sosial, ekonomi, ideologi, dan teknologi. Penekanan produksi ruang terletak pada proses pembentukan sebuah ruang, baik dari sisi politik dan ekonomi. Artinya, produksi ruang sosial tidak terlepas dari peran masyarakat yang terlihat secara empiris. Peristiwa pembentukan ruang dapat dirasakan karena melibatkan proses politik dan ekonomi. Sedangkan konstruksi ruang sosial, lebih menekankan pengalaman yang sifatnya imanjinatif. Ketika konstruksi sosial memiliki andil dalam pembentukan sebuah ruang, maka yang sedang terjadi adalah proses-proses sosial seperti perubahan tatanan masyarakat, konflik, serta pengendalian sosial.

Pemilihan lokasi sosialisasi politik di tengah masyarakat bukan tanpa alasan. Para calon gubernur memahami bahwa lingkungan tempat tinggal akan merujuk pada identitas masyarakat dengan golongan tertentu. Pemilihan tempat tidak hanya lekat dengan daerah kumuh atau permukiman masyarakat miskin, tetapi kandidat juga mendatangi permukiman masyarakat dari golongan menengah ke atas. Kandidat gubernur dari jalur independen Faisal Basri dan Biem Benyamin, yang diharuskan untuk mengumpulkan KTP sebanyak 4 persen dari penduduk Jakarta memilih mengunjungi gang-gang sempit. Pemilihan lokasi tersebut agak menguntungkan, karena kandidat lain tidak ada yang datang ke sana (Kompas Online-21 Januari 2012, Faisal: Sekarang Kami Baru Panen Dukugan). Berbeda dengan Faisal, Wanda Hamidah yang juga berencana maju menjadi calon gubernur lebih memilih mendatangi sekolah-sekolah yang rusak (Rakyat Merdeka-27 Oktober 2011, Balon PAN Kritik Kerja Pemprov DKI). Walaupun kunjungan itu agak rancu karena Ia juga berperan sebagai anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PAN. Sementara itu, Hendardji Soepandji lebih memilih media untuk menyampaikan visi misinya (Rakyat Merdeka-12 Januari 2012, Hendadji Soepandji: Longok Dapur Media). Beliau mendatangi media massa, berharap visi dan misi serta pencitraannya ketika menjadi gubernur diliput oleh media dan diketahui masyarakat.

Pilkada DKI Jakarta tahun ini, diperkirakan lebih meriah dari periode yang lalu. Tahun ini Pilkada akan diikuti kandidat dengan berbagai latar belakang. Mulai dari para pensiunan jenderal, akademisi, petahana, dan tentu saja politisi. Latar belakang yang berbeda juga akan berpengaruh pada pendekatan mereka dalam mencari dukungan. Misalnya, para calon independen yang rela mendatangi kampung-kampung dipelosok Jakarta untuk mencari dukungan KTP, atau para Jenderal yang begerilya dari media ke media.

Sudah lumrah di setiap pemilihan, bahwa petahana lebih dimudahkan karena popularitasnya. Terbukti dari beberapa survey yang dilakukan, Fauzi Bowo selaku incumbent, masih menempati urutan teratas dalam popularitas, di luar elektabilitas. Popularitas adalah barang mahal, karena itulah kandidat penantang berusaha keras mempopulerkan diri mereka kepada masyarakat calon pemilih. Cara cukup ampuh meraih popularitas adalah dengan menyampaikan visi dan misi kandidat di tengah masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung.

Jakarta adalah perkotaan. Masyarakat Jakarta sebagai masyarakat perkotaan masih membentuk komunitas-komunitas yang terbentuk karena alasan tertentu. Alasan pembentukan komunitas di perkotaan biasanya dibagi menjadi dua, berdasarkan tempat tinggal dan tidak berdasarkan tempat tinggal (hobi, pekerjaan, asal daerah, dll). Identitas tempat akan ditentukan oleh tingkat ekonomi komunitas yang ada di sana, contohnya, daerah Pondok Indah akan dikaitkan dengan golongan ekonomi jetset, sebaliknya, daerah bantaran sungai dan gang-gang sempit akan dilekatkan pada masyarakat miskin.

Menurut Louis Wirth, seorang Sosiolog asal Universitas Chicago, paling tidak ada tiga ciri perkotaan. Pertama, memiliki tingkat populasi yang tinggi. Kedua, memiliki kepadatan yang tinggi. Serta ketiga, memiliki kehidupan sosial yang beragam. Wirth menyebutnya sebagai gaya hidup perkotaan (urban way of life). Wirth menyebut demikian bukan tanpa alasan, Ia beranggapan bahwa orang-orang yang tinggal di perkotaan memiliki keahlian masing-masing.

Selain Wirth, ahli yang juga berbicara tentang karakteristik masyarakat perkotaan adalah Ferdinand Tonnies. Ia membedakan antara community (Gemeinschaft) dan Association (gesselschaft). Menurut Tonnies,  community adalah ciri masyarakat yang tinggal di perdesaan karena memiliki kedekatan emosional yang tinggi berdasarkan kekerabatan dan berada di tingkat populasi yang rendah. Sedangkan association adalah ciri masyarakat perkotaan karena didasarkan pada hubungan yang bersifat rasional di antara individu-individu yang memiliki kehidupannya masing-masing.

Pernyataan Tonnies tentang association memiliki kesamaan dengan ciri masyarakat perkotaan yang disampaikan oleh Wirth. Kedua ahli tersebut menyampaikan bahwa kehidupan sosial masyarakat  perkotaan berada pada individu sebagai sel tertutup yang hanya memiliki hubungan atas dasar rasionalitas dan pekerjaan. Individu urban tidak lagi punya waktu untuk melakukan sosialisasi yang sifatnya tradisional berdasarkan kedekatan emosional dan kekerabatan.

Jakarta sebagai pusat pertemuan (melting pot) berbagai suku bangsa di Indonesia, menyisakan ruang bagi peninggalan tradisionalisme yang dimiliki warganya. Maksudnya, sekalipun sebagai kota besar,   masyarakat Jakarta masih menyisakan nilai-nilai tradisionalisme yang dikatakan Tonnies sebagai community. Predikat pseudo-urban melekat di Jakarta karena nilai-nilai tradisional yang masih dianut sebagian warga Jakarta.

Ruang sebagai panggung politik dimaksudkan pada fenomena kandidat Pilkada DKI Jakarta yang memilih melakukan sosialisasi di tempat tertentu. Tempat tersebut memiliki identitas yang mewakili masyarakat dan kepentingan tertentu.

 

 

 

Rio Haryadi

Konsultan Muda pada Makna Informasi Indonesia

 

Benteng Bank Century

January 3, 2012
By

Senin (27 April 2009), Bank Century melalui kuasa hukumnya Pradjoto & Associates memasang pengumuman di sejumlah surat kabar nasional. Isinya antara lain menerangkan bahwa masalah yang memantik unjuk rasa...

Read more »

Membaca Trend si Beri Hitam

January 3, 2012
By

Blackberry. Gadget pabrikan Kanada ini telah masuk ke dalam denyut gaya hidup kaum urban dunia. Produsen si beri hitam ini, Research In Motion (RIM), menyatakan telah membukukan penjualan senilai...

Read more »

Pertamina Paska Likuidasi ISC

January 3, 2012
By

Pembubaran ISC (Integrated Supply Chain) oleh manajemen Pertamina di bawah kepemimpinan Karen Agustiawan menyisakan pertanyaan. Bagaimana dengan nasib program transformasi Pertamina? Langkah likuidasi ISC sendiri cukup mengagetkan publik. Superbody...

Read more »

Agar CSR sekaligus menjadi PR

January 3, 2012
By

Bagaimana menentukan program corporate social responsibility (CSR) agar sekaligus dapat menjadi langkah public relations (PR) yang efektif bagi perusahaan?  Pilihan program CSR yang mengena akan membantu perusahaan melampaui dua...

Read more »

Menghindari Jebakan Kekuatan SBY

December 14, 2011
By

Pasangan koalisi pemilu presiden mulai terlihat bentuknya. Diperkirakan akan muncul 3 (tiga) pasangan capres-cawapres, yaitu pasangan Jusuf Kalla (JK) – Wiranto yang didukung Partai Golkar dan Partai Hanura, pasangan...

Read more »

Pertamina Bersiap Menghadapi DPR

December 14, 2011
By

Bayangkan Anda adalah seorang Corporate Secretary. Perusahaan Anda tengah menghadapi masalah penting yang genting. Sementara ada institusi lain yang polahnya berpotensi merugikan reputasi perusahaan. Institusi tersebut dalam beberapa kesempatan...

Read more »

 

May 2013
M T W T F S S
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Twitter